:;">Responsive Advertisement

Refleksi HUT Ke-52 YPPK, Direktur Eksekutif Ajak Lembaga Berani Evaluasi Diri


Direktur Eksekutif YPPK FA Wilayah Kabupaten Jayawijaya Edison Mario Wantik saat ditemui wartawan, usai perayaan HUT ke-52 di Gereja Katholik Kristus Jaya Wamena, Papua Pegunungan, Sabtu (22/8/2026). Foto: SBP

SUARABALIEMPAPUA – Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi Kabupaten Jayawijaya menggelar Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-52 di Gereja Katholik Kristus Jaya Wamena, Papua Pegunungan, Sabtu (22/8/2026).

Dalam kesempatan itu Direktur Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi, Edison Mario Wantik, menyampaikan refleksi mendalam mengenai kondisi dan masa depan pendidikan di lingkungan YPPK.

Edison menegaskan bahwa peringatan ulang tahun sebuah lembaga pendidikan tidak seharusnya hanya menjadi ajang seremonial, melainkan momentum untuk melakukan evaluasi secara jujur terhadap perjalanan organisasi.

"Hari ulang tahun sebuah lembaga pada hakikatnya bukan hanya momentum untuk merayakan bertambahnya usia. Lebih dari itu, ulang tahun seharusnya menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak, menoleh ke belakang, melihat keadaan hari ini, dan bertanya dengan jujur: ke mana lembaga ini akan berjalan ke depan?" ujar Edison.

Ia mengaku menyampaikan refleksi tersebut bukan karena sikap pesimis, melainkan karena rasa cinta dan kepedulian terhadap lembaga pendidikan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. 

Menurutnya, berbagai persoalan yang muncul dalam pengelolaan pendidikan perlu disikapi sebagai bahan introspeksi bersama demi kemajuan YPPK di masa mendatang.

Edison menilai keberanian untuk mengakui dan menghadapi persoalan merupakan ciri lembaga yang sehat. Ia mengingatkan bahwa suara guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan, serta orang tua siswa perlu didengar karena mereka merupakan pihak yang berhadapan langsung dengan realitas pendidikan di lapangan.

"Lembaga yang sehat tidak mengatakan tidak ada masalah. Lembaga yang sehat mengatakan ada masalah, mari kita cari tahu penyebabnya dan kita perbaiki bersama," katanya.

Dalam refleksi tersebut, ia juga menyoroti pentingnya peran guru sebagai ujung tombak pendidikan. Menurutnya, guru tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana tugas, tetapi memiliki kontribusi besar dalam menjaga kualitas pendidikan dan nama baik sekolah.

Karena itu, ia mendorong agar budaya kritik yang konstruktif dibangun di lingkungan YPPK. Guru yang menyampaikan persoalan, menurutnya, tidak boleh langsung dianggap sebagai pembangkang, melainkan sebagai bagian dari upaya perbaikan lembaga.

Selain itu, Edison menekankan perlunya pembenahan tata kelola dan kepemimpinan sekolah. Ia menilai kejelasan kewenangan, transparansi, akuntabilitas, serta sistem pengawasan yang sehat menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas pendidikan.

Ia juga mengingatkan pentingnya prinsip keadilan dalam pengelolaan organisasi. Setiap persoalan administrasi, disiplin maupun kepemimpinan harus diselesaikan berdasarkan aturan yang sama tanpa adanya perlakuan berbeda karena faktor kedekatan atau kepentingan tertentu.

Dalam kesempatan itu, Edison turut mengajak YPPK untuk menghargai pengabdian para guru senior yang telah puluhan tahun membangun dunia pendidikan. Menurutnya, pengalaman para guru merupakan aset berharga yang perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi penerus.

Di usia yang ke-52 tahun ini, Edison mengajak seluruh keluarga besar YPPK untuk berani bercermin dan menjawab sejumlah pertanyaan penting mengenai kualitas pelayanan pendidikan, jumlah peserta didik, kepercayaan masyarakat, kesejahteraan guru, hingga efektivitas tata kelola lembaga.

"Jangan hanya bangga dengan masa lalu. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah hari ini YPPK masih mampu menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya masyarakat," tegasnya.

Selain itu, Edison berharap HUT ke-52 YPPK menjadi momentum pembaruan yang mendorong seluruh pihak untuk mendengar, memperbaiki, dan bergerak bersama demi meningkatkan mutu pendidikan di Papua Pegunungan.

"Selamat ulang tahun YPPK. Semoga semakin dewasa dalam tata kelola, semakin bermutu dalam pendidikan, semakin adil dalam memperlakukan para pengabdi, dan semakin setia pada cita-cita para pendiri," tutupnya.***

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama