![]() |
| Anggota Komisi B DPRK Jayawijaya, Yomi Kogoya, S.IP., saat ditemui wartawan di Wamena, Jumat (23/10/2026). |
WAMENA, SBP NEWS – Anggota Komisi B DPRK Jayawijaya, Yomi Kogoya, S.IP., mendorong 328 kepala kampung di Kabupaten Jayawijaya untuk menggerakkan masyarakat kembali berkebun dan memanfaatkan lahan kosong sebagai sumber kehidupan keluarga.
Menurut Yomi, upaya tersebut harus sejalan dengan moto masyarakat Papua Pegunungan, yakni 3W: Wen, Wam, dan Wene, yang menekankan pentingnya bekerja, memelihara ternak babi, serta membangun kesejahteraan melalui hasil kerja sendiri.
Ia menilai, masyarakat Jayawijaya memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, terutama lahan pertanian dan perkebunan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan serta meningkatkan ekonomi keluarga.
Karena itu, Yomi berharap kepala kampung tidak hanya berperan dalam menjalankan program pembangunan, tetapi juga menjadi mentor dan penggerak masyarakat untuk menghidupkan kembali aktivitas berkebun sebelum dana desa disalurkan.
“Harapan saya, kepala-kepala kampung bisa menjadi mentor dan penggerak di kampung masing-masing untuk menghidupkan lahan-lahan yang masih kosong. Sebelum penyaluran dana desa, masyarakat harus diarahkan untuk berkebun,” ujarnya saat ditemui wartawan di Wamena, Jumat (23/10/2026).
3W: WEN, WAM, DAN WENE SEBAGAI SUMBER KEHIDUPAN
Yomi menjelaskan, moto 3W memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat Papua Pegunungan.
Wen berarti bekerja. Masyarakat harus memiliki semangat untuk bekerja dan mengolah tanah yang tersedia agar menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi keluarga.
Menurutnya, lahan kosong yang dibiarkan tidak produktif seharusnya mulai dimanfaatkan melalui kegiatan pertanian dan perkebunan.
Dengan bekerja dan menghasilkan pangan sendiri, masyarakat dapat membangun kemandirian serta mengurangi ketergantungan terhadap bantuan pemerintah.
Wam berarti babi. Yomi menilai, memelihara babi merupakan salah satu bentuk usaha yang dapat memberikan manfaat besar bagi kehidupan masyarakat Papua Pegunungan.
Babi tidak hanya memiliki nilai dalam kehidupan adat dan sosial masyarakat, tetapi juga dapat menjadi sumber ekonomi keluarga ketika dibutuhkan.
Ia menjelaskan, hasil kerja dari kebun dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung usaha peternakan.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berkebun untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, tetapi juga dapat mengembangkan usaha yang memberikan manfaat jangka panjang.
Wene merupakan bagian dari moto 3W yang berkaitan dengan kesejahteraan dan hasil kehidupan masyarakat. Yomi berharap nilai tersebut dapat diwujudkan melalui kerja keras, pemanfaatan lahan, serta pengelolaan hasil pertanian dan peternakan secara baik.
Menurutnya, masyarakat perlu membangun pola kehidupan produktif agar memiliki sumber penghidupan yang dapat diandalkan ketika menghadapi berbagai kebutuhan keluarga.
BERKEBUN DAN MEMELIHARA BABI UNTUK MENJAWAB KEBUTUHAN KELUARGA
Yomi menegaskan, masyarakat harus memahami bahwa bekerja dan menghasilkan sesuatu merupakan bagian penting dalam memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia mencontohkan, ketika terjadi kematian dalam keluarga atau masyarakat, babi memiliki peran penting dalam pelaksanaan adat dan kebutuhan sosial.
Begitu pula ketika anak-anak membutuhkan biaya pendidikan, hasil usaha dan ternak dapat menjadi sumber pendapatan untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut.
“Orang harus kerja baru bisa piara wam (babi), lalu bisa menyelesaikan semua persoalan. Ketika orang meninggal, kita harus bawa wam (babi). Ketika anak kekurangan biaya pendidikan, kita bisa jual wam untuk menutupinya, dan banyak hal lagi,” jelas Yomi.
Ia mengatakan, contoh tersebut menunjukkan bahwa masyarakat perlu memiliki sumber penghidupan sendiri melalui kegiatan produktif.
Dengan bekerja, berkebun, dan memelihara ternak, keluarga dapat mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan adat, pendidikan anak, serta berbagai keperluan lainnya.
Karena itu, Yomi mengajak masyarakat untuk tidak membiarkan lahan yang tersedia menjadi lahan tidur, sementara kebutuhan keluarga terus meningkat.
328 KEPALA KAMPUNG DIMINTA MENJADI PENGGERAK MASYARAKAT
Yomi berharap 328 kepala kampung di Kabupaten Jayawijaya dapat mengambil peran strategis dalam menggerakkan masyarakat di wilayah masing-masing.
Menurutnya, kepala kampung harus mampu melihat potensi yang dimiliki masyarakat dan mengarahkan warga untuk mengembangkan kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan, maupun perikanan sesuai kondisi kampung.
Ia menilai, pembangunan kampung tidak seharusnya hanya berfokus pada kegiatan fisik, tetapi juga harus memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, sebelum dana desa disalurkan, kepala kampung diharapkan mulai mendorong masyarakat untuk kembali mengolah tanah dan membangun kegiatan ekonomi produktif.
Yomi juga menyoroti kondisi sosial di Kota Wamena, ketika sebagian masyarakat menghabiskan waktu di perkotaan, sementara keluarga mereka, termasuk istri dan anak-anak, masih berada di kampung.
Ia mengingatkan masyarakat yang tidak memiliki keperluan mendesak di kota agar mempertimbangkan kembali untuk pulang ke kampung dan memanfaatkan lahan pertanian yang tersedia.
Menurutnya, keberadaan lahan dan potensi alam di kampung merupakan modal penting yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Jangan sampai lahan kita banyak, tetapi dibiarkan tidur. Sumber kehidupan itu ada di dalam tanah. Mari kita kembali ke kebun dan manfaatkan lahan yang kita miliki,” katanya.
DANA DESA HARUS MENDUKUNG KEMANDIRIAN EKONOMI
Lebih lanjut, Yomi menyarankan agar pemerintah kampung memprioritaskan program pertanian, perkebunan, dan peternakan sesuai kebutuhan serta potensi masing-masing wilayah.
Ia menilai, dana desa perlu diarahkan pada program pemberdayaan masyarakat yang mampu menghasilkan manfaat nyata, terutama dalam meningkatkan pendapatan keluarga dan memenuhi kebutuhan dasar.
Menurutnya, kegiatan berkebun dapat menjadi langkah awal untuk membangun kemandirian ekonomi masyarakat.
Hasil pertanian dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga, sedangkan sebagian hasilnya dapat dikembangkan menjadi sumber pendapatan.
Pendapatan tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk memelihara ternak babi, membiayai pendidikan anak, serta memenuhi kebutuhan adat dan sosial keluarga.
Yomi turut menyampaikan usulan agar masyarakat yang aktif berkebun mendapat perhatian dalam program pemberdayaan kampung.
Ia menegaskan, usulan tersebut merupakan dorongan agar masyarakat semakin termotivasi mengolah lahan dan membangun kehidupan yang produktif.
Namun, program kampung tetap perlu disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat, potensi wilayah, serta perencanaan yang tepat sasaran.
KEMBALI KE KAMPUNG, HIDUPKAN 3W
Yomi berharap moto 3W, yakni Wen, Wam, dan Wene, dapat menjadi semangat bersama bagi masyarakat Jayawijaya dalam membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Menurutnya, masyarakat harus mulai dari bekerja, mengolah tanah, memanfaatkan hasil kebun, dan mengembangkan usaha peternakan agar memiliki sumber penghidupan yang berkelanjutan.
Ia juga berharap kepala kampung dapat menjadi contoh bagi masyarakat dengan mendorong kegiatan produktif yang sesuai dengan potensi wilayah masing-masing.
Dengan memanfaatkan lahan secara optimal, masyarakat diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi mampu memenuhi kebutuhan keluarga melalui hasil kerja sendiri.
“Program kampung ke depan harus lebih fokus pada kesejahteraan masyarakat, terutama melalui perkebunan, pertanian, peternakan, dan perikanan. Dengan begitu, masyarakat di kampung bisa merasakan langsung manfaat dari dana desa,” tuturnya.
Yomi berharap, melalui gerakan 328 kepala kampung untuk menghidupkan lahan pertanian dan memperkuat usaha peternakan, moto 3W dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jayawijaya.
Wen untuk bekerja, Wam untuk dipelihara, dan Wene sebagai tujuan membangun kesejahteraan keluarga.
"Dengan semangat tersebut, saya berharap masyarakat mampu membangun kemandirian ekonomi, menjaga nilai adat, serta mempersiapkan masa depan generasi Papua Pegunungan melalui hasil kerja sendiri,"tutupnya.(*)

0 Komentar