Hasil Kerja Sama Pemkab Jayawijaya dan SSH Berbuah Positif, Kemampuan Siswa Hepuba Meningkat


Suasana saat melakukan sesi foto bersama usai Seminar Hasil Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang diterapkan di SD YPPK ST Mikhael Hepuba, di Aula Tokoh Yudha, Jumat (2/10/2026).

WAMENA, SBP NEWS - Program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) yang dijalankan melalui kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Jayawijaya dan SD YPPK St. Mikhael Hepuba menunjukkan hasil positif. 

Peningkatan kemampuan membaca, menulis, berhitung, hingga bahasa Inggris siswa menjadi salah satu capaian yang dipaparkan dalam Seminar Hasil SSH di Aula Tokoh Yudha, Jumat (2/10/2026).

Dalam kesempatan itu, akademisi senior Universitas Papua (UNIPA), Prof. Dr. Agus Sumule, menjelaskan bahwa Sekolah Sepanjang Hari merupakan salah satu inovasi pendidikan yang lahir dari Papua untuk menjawab berbagai tantangan pendidikan yang selama ini dihadapi masyarakat Papua, khususnya di daerah pedalaman.

Menurutnya, secara historis masyarakat Papua telah lama mengenal sistem pendidikan berasrama yang terbukti melahirkan banyak tokoh penting. Namun, model tersebut sulit diterapkan secara menyeluruh karena jumlah sekolah dasar di Tanah Papua sangat banyak.

"Di seluruh Tanah Papua terdapat sekitar 3.771 sekolah dasar. Tentu tidak mudah membangun asrama untuk seluruh sekolah tersebut. Di Jayawijaya sendiri terdapat ratusan SD. Karena itu kami mengembangkan Sekolah Sepanjang Hari sebagai alternatif yang lebih realistis dan dapat diterapkan di kampung-kampung," ujar Agus Sumule.

Dia menjelaskan bahwa program SSH di SD YPPK St. Mikhael Hepuba menunjukkan hasil yang menggembirakan. Anak-anak mengalami peningkatan kemampuan membaca, menulis, berhitung, serta kemampuan berbahasa Inggris. Selain itu, mereka juga menjadi lebih percaya diri dalam berinteraksi dan menyampaikan pendapat.

"Hasil yang terlihat hari ini menunjukkan bahwa kemampuan bahasa Inggris anak-anak meningkat, matematika mereka lebih baik, kemampuan membaca dan menulis berkembang, serta kepercayaan diri mereka bertambah. Hal ini juga diakui oleh orang tua dan tokoh masyarakat," katanya.

Agus berharap keberhasilan tersebut dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Papua sehingga cita-cita meningkatkan kualitas sumber daya manusia Papua dapat tercapai.

Ia juga memperkenalkan konsep pengembangan lanjutan yang disebut SSH Tahap II, yakni program pendampingan bagi lulusan SSH agar tetap memperoleh pendidikan berkualitas di kampung halaman melalui sistem homeschooling yang didampingi guru pendamping.

Menurutnya, anak-anak yang telah memiliki kemampuan dasar membaca, menulis, berhitung, dan berbahasa Inggris dapat melanjutkan proses belajar dengan memanfaatkan teknologi digital dan berbagai materi pembelajaran yang tersedia secara daring.

"Melalui sistem homeschooling yang didampingi guru pendamping, anak-anak tidak harus meninggalkan kampung untuk memperoleh pendidikan yang baik. Mereka tetap bisa tinggal bersama keluarga sambil melanjutkan pendidikan hingga tingkat SMA," ujarnya.

Lebih lanjut, Agus Sumule menilai bahwa pengembangan pendidikan di Papua membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. Berdasarkan perhitungannya, pembangunan sistem pendidikan serupa di seluruh Tanah Papua membutuhkan dana sekitar Rp9,4 triliun.

Ia membandingkan angka tersebut dengan kontribusi ekonomi Papua kepada negara yang menurut laporan PT Freeport Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar Rp74 triliun dalam bentuk pajak, royalti, dividen, dan penerimaan negara bukan pajak.

"Jika kontribusi Papua kepada negara sangat besar, maka sudah seharusnya sebagian dana tersebut kembali untuk membiayai pendidikan dan masa depan anak-anak Papua," katanya.

Selain pendidikan, Agus menilai program SSH juga dapat menjadi pintu masuk bagi peningkatan layanan kesehatan di daerah terpencil. 

Menurutnya, fasilitas internet yang tersedia dalam program tersebut dapat dimanfaatkan untuk konsultasi kesehatan jarak jauh antara tenaga medis di kampung dan tenaga kesehatan di kota.

"Kalau ada masyarakat yang sakit di kampung, informasi dapat disampaikan melalui internet sehingga tenaga kesehatan di kota bisa memberikan arahan penanganan awal sebelum pasien dirujuk apabila diperlukan," jelasnya.

Pada akhir pemaparannya, Prof. Agus Sumule menyampaikan apresiasi kepada para guru pendamping yang selama ini menjadi ujung tombak pelaksanaan program SSH. 

Ia menyebut para pendamping berasal dari berbagai latar belakang pendidikan, tidak hanya dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), tetapi juga dari bidang teknik, geologi, kimia, dan disiplin ilmu lainnya.

"Mereka terpanggil untuk melayani masyarakat. Mereka berada di garis depan mendampingi anak-anak Papua agar memperoleh pendidikan yang lebih baik dan masa depan yang lebih cerah," tutupnya.(*)



Posting Komentar

0 Komentar