Musim Kemarau Panjang, Dinkes Jayawijaya Pastikan Tak Ada Lonjakan Kasus Penyakit

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya, Esau Rudianto Aibesa

WAMENA, SBP NEWS - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya Melalui Dinas Kesehatan memastikan tidak terjadi lonjakan kasus penyakit selama musim kemarau panjang pasca fenomena El Nino. Berdasarkan laporan dari 29 puskesmas yang aktif di wilayah Jayawijaya, tidak ditemukan adanya peningkatan signifikan kasus penyakit akibat kondisi musim panas tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayawijaya, Esau Rudianto Aibesa, mengatakan data dari seluruh puskesmas menjadi dasar Dinas Kesehatan dalam memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat.

“Informasi tentang situasi dan keadaan sekarang di Kabupaten Jayawijaya pasca peristiwa El Nino atau musim panas sekarang, tidak ada kasus yang meningkat di musim panas,” kata Esau di Wamena, Sabtu (5/9/2026).

Esau juga membantah informasi yang menyebutkan adanya peningkatan kasus kudis atau skabies di sejumlah distrik, termasuk Distrik Itlayhisage.

Menurut dia, setiap informasi mengenai peningkatan kasus penyakit harus terlebih dahulu dikonfirmasi melalui laporan resmi dari puskesmas. Sebab, sebanyak 29 puskesmas yang terdaftar menjadi sumber data Dinas Kesehatan dalam menentukan kondisi kesehatan masyarakat di setiap wilayah.

“Informasi dari masyarakat ataupun media yang sebelumnya bahwa orang dengan luka-luka yang disebut kudis atau skabies itu makin meningkat. Kita harus memastikan laporan dari pelayanan puskesmas masing-masing distrik dari 29 puskesmas yang terregistrasi,” ujarnya.

Esau menegaskan, berdasarkan laporan yang diterima Dinas Kesehatan, tidak terdapat peningkatan kasus seperti informasi yang sebelumnya beredar mengenai kondisi di Distrik Itlay Hisage.

“Selama ini tidak ada kasus yang meningkat seperti yang diberitakan kemarin di Distrik Itlay Hisage, itu hoaks,” tegasnya.

Meski demikian, ia mengakui bahwa pada puncak musim kemarau sempat ditemukan sejumlah kasus skabies. Kondisi tersebut, menurutnya, berkaitan dengan keterbatasan air yang membuat masyarakat kesulitan menjaga kebersihan diri dan pakaian.

“Itu karena musim panas, tampak tak ada air. Orang malas mandi, baju tidak bisa diganti karena keterbatasan air. Itu menyebabkan skabies untuk kudis,” jelas Esau.

Ia menambahkan, jenis penyakit yang dialami masyarakat tetap harus dipastikan melalui pemeriksaan medis dan laboratorium sehingga tidak semua keluhan atau luka pada kulit dapat langsung disebut sebagai skabies.

“Kita tidak bisa pastikan skabies jenis apa karena harus lewat pemeriksaan laboratorium resmi,” katanya.

Esau memastikan kasus yang sempat muncul tersebut telah mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan di puskesmas.

“Sampai sekarang tidak ada lagi kasus itu karena obat yang tersedia sudah ditangani. Hampir semua puskesmas sudah ditangani karena muncul itu pada waktu musimnya,” ujarnya.

Sementara terkait kebakaran hutan yang terjadi di sejumlah wilayah Jayawijaya, Dinas Kesehatan juga memastikan belum menerima laporan adanya peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

“Walaupun ada kebakaran hutan, tapi tidak ada yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Laporan itu kami terima dari puskesmas distrik setempat yang terjadi peristiwa kebakaran wilayah Jayawijaya. Sampai dengan sekarang ini tidak ada data yang masuk ke kami,” tegasnya.

Menurut Esau, pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat terus dilakukan melalui laporan dari puskesmas di masing-masing distrik.

Dinas Kesehatan Jayawijaya juga mencatat tidak adanya peningkatan tren pada 10 penyakit terbanyak yang dipantau sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Esau mengatakan, meskipun Jayawijaya telah memasuki musim kemarau dalam beberapa bulan terakhir, kondisi tersebut tidak menunjukkan dampak signifikan terhadap tren penyakit berdasarkan laporan puskesmas.

“Untuk 10 besar penyakit, sampai dengan saat ini data kami tidak ada penyakit yang tren lebih tinggi. Dari bulan Januari sampai Juni, Juli, Agustus memang ada musim kemarau tetapi tidak terdampak, dari laporan semua puskesmas,” katanya.

Selain memastikan kondisi penyakit tetap terkendali, Dinas Kesehatan Jayawijaya juga memastikan ketersediaan obat untuk pelayanan kesehatan masyarakat dalam kondisi aman.

Esau mengatakan obat-obatan telah didistribusikan ke berbagai puskesmas, termasuk fasilitas kesehatan yang berada di wilayah terpencil.

“Ketersediaan obat pun sudah dipenuhi. Dan untuk tahun ini, kami sudah siapkan semua. Sudah berjalan,” ujarnya.

Dinas Kesehatan Jayawijaya juga menggandeng sejumlah lembaga swadaya masyarakat, termasuk Médecins Sans Frontières (MSF), untuk membantu pelayanan kesehatan di wilayah yang masih mengalami keterbatasan tenaga kesehatan.

Dua puskesmas yang mendapat dukungan tersebut yakni Puskesmas Walaik dan Puskesmas Tailarek.

Di sisi lain, Esau meminta masyarakat maupun media agar melakukan konfirmasi kepada Dinas Kesehatan sebelum menyampaikan informasi mengenai perkembangan kasus penyakit di Jayawijaya.

Menurutnya, langkah tersebut penting agar informasi yang disampaikan kepada publik berdasarkan data resmi dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

“Saya meminta kepada media sebelum mempublikasikan berita atau informasi tentang masalah kesehatan terlebih dahulu mengkoordinasikan ke Dinas Kesehatan. Karena semua pelayanan puskesmas laporan masuk ke kami,” pungkas Esau.(*)

Posting Komentar

0 Komentar