![]() |
| Pengelola Tempat Wisata Lemba Senyum Welesi, Helianus Kuban bersama wartawan saat berdiskusi soal dampak Musim Kemarau dan Konflik Sosial yang berkepanjangan di Jayawijaya, Minggu (20/9/2026). |
WAMENA, SBP NEWS - Di tengah hamparan alam pegunungan Papua, sebuah kawasan di Kampung Apenas, Distrik Welesi, Kabupaten Jayawijaya, menyimpan cerita tentang perjuangan seorang warga membangun usaha wisata dari potensi alam yang ada di sekitarnya.
Tempat itu dikenal sebagai Lembah Senyum Welesi atau Lembah Senyum Kali Wasi. Bagi sebagian orang, kawasan tersebut mungkin hanya berupa aliran kali dan bentang alam biasa. Namun bagi Helianus Kuban, kawasan itu menyimpan potensi yang dapat dikembangkan menjadi tempat wisata sekaligus sumber penghidupan bagi masyarakat.
Helianus merupakan pemilik Tempat Wisata Lembah Senyum Welesi. Ia mulai membuka tempat wisata tersebut pada 2014, setelah terinspirasi dari sejumlah objek wisata di Jayapura, termasuk Pantai Holtekam dan Pantai Hamadi.
“Saya melihat potensi Kali Wasi ini dari bawah sampai ke atas. Kalau kita buka tempat wisata sangat bagus. Akhirnya tahun 2014 saya mulai buka tempat wisata ini,” kata Helianus saat ditemui wartawan, Minggu (20/9/2026).
Setelah memutuskan mengembangkan kawasan tersebut, Helianus mulai membersihkan dan menata lokasi secara bertahap. Ia tidak langsung mendapatkan banyak pengunjung. Butuh waktu hingga dua tahun sebelum masyarakat mulai mengenal tempat tersebut.
Pada 2016, pengunjung dari Kota Wamena mulai berdatangan. Air yang jernih dan bersih menjadi salah satu daya tarik utama.
“Mulai dari situ banyak orang tahu tempat ini bagus, airnya jernih dan bersih,” ujarnya.
Ketika Sarjana Memilih Bekerja di Pinggir Kali
Keputusan Helianus mengembangkan tempat wisata tidak langsung mendapat dukungan dari semua orang.
Ia mengisahkan, sejumlah masyarakat di kampung sempat mempertanyakan pilihannya. Setelah menyandang gelar sarjana, ia justru memilih mengembangkan usaha di pinggir kali daripada mencari pekerjaan di kantor.
“Masyarakat kampung sini sering bilang, kamu mau bikin apa? Sudah sarjana itu lamar kerja di kantor, bukan kerja-kerja di pinggir kali,” kata Helianus.
Namun, komentar tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia tetap memilih bekerja dan mengembangkan potensi alam yang menurutnya memiliki nilai ekonomi.
Perlahan, kerja keras itu mulai terlihat hasilnya. Pengunjung mulai datang dari kota untuk mandi dan menikmati suasana alam di Lembah Senyum.
Dari tempat yang awalnya belum banyak dikenal, kawasan tersebut kemudian berkembang menjadi salah satu pilihan masyarakat untuk menikmati suasana alam di Welesi.
Alam Menjadi Modal Utama
Lembah Senyum Welesi menawarkan suasana alam pegunungan dengan bentang lembah dan pemandangan hijau. Pada waktu tertentu, kabut putih menyelimuti kawasan sehingga memberikan suasana khas pegunungan.
Lokasinya juga relatif dekat dari Kota Wamena dan berada tidak jauh dari kawasan yang berkaitan dengan aktivitas wisata Lembah Baliem.
Potensi tersebut menjadi modal utama bagi pengembangan wisata berbasis masyarakat.
Selain panorama alam, kawasan ini juga memiliki fasilitas yang dibangun secara bertahap, seperti pondok atau para-para, area parkir, tempat bersantai dan fasilitas pendukung lainnya.
Namun, pengembangan kawasan tersebut masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan pembiayaan.
Jalan Membaik, Pengunjung Sempat Meningkat
Helianus mengatakan, akses menuju lokasi wisata kini semakin baik setelah jalan menuju kawasan tersebut diaspal.
Ia menyebut pembangunan jalan dilakukan pada masa Velix Wanggai menjabat sebagai Penjabat Gubernur Papua Pegunungan.
Perbaikan akses tersebut membuat mobilitas masyarakat menuju lokasi menjadi lebih mudah.
“Puji Tuhan, pengunjung sudah mulai banyak sekali,” katanya.
Namun, kondisi tersebut berubah pada 2026.
Musim kemarau yang berkepanjangan serta situasi konflik sosial di sejumlah wilayah Jayawijaya membuat aktivitas wisata kembali terdampak.
“Untuk saat ini situasi keamanan di Kabupaten Jayawijaya tidak aman, jadi pengunjung juga sepi, terutama saudara kita dari luar Papua yang biasa berkunjung ke tempat kami,” ujar Helianus.
Ia mengatakan, kunjungan masyarakat lokal juga mengalami penurunan akibat situasi konflik yang terjadi sebelumnya.
Helianus berharap kondisi keamanan dapat kembali kondusif sehingga masyarakat dan wisatawan dapat kembali menikmati kawasan Lembah Senyum.
“Mungkin tahun depan kalau sudah mulai aman, tempat ini akan ramai kembali,” katanya.
Tiket Menjadi Modal untuk Terus Bertahan
Di tengah keterbatasan kunjungan, pengelola tetap mempertahankan usaha dengan mengandalkan pendapatan dari pengunjung.
Tarif yang diberlakukan berbeda berdasarkan jenis kendaraan. Sepeda motor dikenakan Rp25.000, sedangkan kendaraan seperti Avanza dan Strada dikenakan Rp100.000.
Untuk kendaraan berukuran besar seperti truk dan bus, tarifnya Rp150.000.
Sementara itu, pengunjung yang menggunakan pondok atau para-para dikenakan tarif mulai Rp100.000 hingga Rp250.000, tergantung ukuran dan fasilitas yang digunakan.
Menurut Helianus, sebagian pendapatan tersebut kembali digunakan untuk memperbaiki dan mengembangkan kawasan wisata.
“Orang datang kasih sesuai tarif, kita olah lagi kembali untuk bangun tempat ini,” jelasnya.
Bantuan Pemerintah Pernah Diterima
Dalam perjalanan mengembangkan Lembah Senyum, Helianus mengatakan pihaknya telah beberapa kali mengajukan proposal kepada pemerintah untuk mendapatkan dukungan.
Pada 2016, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya memberikan bantuan berupa MCK dua pintu, timbunan area parkir serta sebuah pondok berukuran 4x6 meter.
Kemudian pada 2024, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan memberikan bantuan dua pondok berukuran 4x4 meter serta dana pembinaan.
Meski demikian, Helianus mengatakan hingga saat ini belum ada lagi bantuan yang diterima untuk pengembangan fasilitas wisata.
Ia berharap pemerintah tidak hanya menunggu proposal dari pelaku usaha, tetapi juga turun langsung melihat kondisi tempat usaha masyarakat.
Menurutnya, survei lapangan diperlukan agar bantuan pemerintah benar-benar diberikan kepada usaha yang aktif dan memiliki potensi untuk dikembangkan.
Bukan Sekadar Tempat Wisata
Bagi Helianus, membangun Lembah Senyum bukan semata-mata untuk kepentingan bisnis pribadi.
Ia ingin tempat tersebut menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat sekitar, terutama pemuda dan mama-mama di kampung.
“Saya ingin buka tempat usaha ini tujuannya untuk membuka lapangan kerja bagi para pemuda dan mama-mama yang ada di kampung ini sekaligus memotivasi bagi siapa saja yang ingin fokus di dunia usaha,” katanya.
Ia juga ingin mendorong masyarakat memanfaatkan potensi alam dan hasil pertanian yang mereka miliki.
Ke depan, Helianus berencana menyediakan area seperti bazar atau tempat jualan bagi masyarakat.
Hasil pertanian seperti stroberi, pisang dan berbagai jenis sayuran diharapkan dapat dijual kepada wisatawan yang datang.
Dengan begitu, manfaat ekonomi dari aktivitas wisata tidak hanya dirasakan pengelola, tetapi juga masyarakat di sekitar lokasi.
“Kalau semua ini berjalan dengan lancar, saya ingin melibatkan pemuda untuk bekerja di tempat ini supaya angka pengangguran di kampung ini menjadi kurang,” ujarnya.
Masih Menyimpan Banyak Rencana
Di balik fasilitas yang sudah ada, Helianus masih menyimpan sejumlah rencana pengembangan.
Ia ingin membangun tempat penginapan, kolam renang, aula dan berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Namun, keterbatasan finansial menjadi salah satu kendala utama.
“Banyak yang ingin saya kembangkan di tempat ini, di antaranya bangun tempat penginapan, kolam renang, aula dan lainnya. Tapi semua tergantung finansial,” katanya.
Karena itu, ia berharap ada kerja sama yang lebih kuat antara pemerintah dan pelaku usaha lokal.
Menurut Helianus, dukungan pemerintah tidak hanya dalam bentuk pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas pengelola wisata.
Ingin Pengusaha Lokal Belajar ke Luar Papua
Salah satu harapan Helianus adalah pemerintah dapat membuat program studi banding bagi pengusaha lokal ke daerah lain yang sektor pariwisatanya telah berkembang.
Ia menyebut Bali, Yogyakarta dan Malang sebagai beberapa daerah yang dapat menjadi tempat belajar bagi pelaku usaha wisata dari Papua Pegunungan.
Menurutnya, pengusaha lokal dapat memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan wisata, pelayanan pengunjung, promosi hingga pengembangan produk ekonomi masyarakat.
Setelah mengikuti pelatihan atau studi banding, para pengusaha tersebut diharapkan dapat membawa pengetahuan itu kembali dan menerapkannya di daerah masing-masing.
Bagi Helianus, Lembah Senyum bukan hanya tentang tempat menikmati keindahan alam.
Tempat itu adalah hasil dari sebuah keputusan untuk percaya bahwa potensi di kampung sendiri dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan.
Dari pinggir Kali Wasi, ia membangun sebuah usaha sedikit demi sedikit. Kini, harapannya semakin besar: menjadikan Lembah Senyum sebagai ruang wisata sekaligus ruang ekonomi bagi pemuda, mama-mama dan masyarakat Welesi.
Di tengah tantangan kemarau dan situasi keamanan, Helianus masih memilih bertahan.
Sebab baginya, alam yang ada di kampung bukan sekadar pemandangan untuk dilihat, tetapi juga potensi yang dapat diolah menjadi masa depan.(*)

0 Komentar