![]() |
| Suasana saat Direktur Eksekutif YPPK FA Kabupaten Jayawijaya, Edison Mario Wantik saat melakukan evaluasi bersama sejumlah guru SMA YPPK St Thomas Wamena. |
SUARABALIEMPAPUA - Direktur Eksekutif Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik Fransiskus Asisi (YPPK FA) Kabupaten Jayawijaya, menekankan pentingnya pengelolaan tenaga guru, pegawai, dan tenaga kependidikan secara efektif dan efisien dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SMA YPPK Santo Thomas Wamena.
Hal ini disampaikan Direktur Eksekutif YPPK FA Jayawijaya Edison saat ditemui, di Wamena, Jumat (4/9/2026).
Menurut Edison, pengelolaan sumber daya manusia di sekolah harus diarahkan untuk mencapai hasil maksimal dengan penggunaan tenaga, waktu, dan biaya yang sehemat mungkin. Karena itu, kepala sekolah perlu menempatkan orang yang tepat pada posisi yang sesuai dengan kompetensinya.
Ia mendorong sekolah melakukan analisis kebutuhan tenaga guru dan kependidikan, pemetaan kompetensi, serta pembagian tugas yang jelas dan proporsional. Guru juga diharapkan tidak dibebani terlalu banyak tugas tambahan yang dapat mengganggu tugas utama dalam proses pembelajaran.
“Jangan menuntut guru bekerja lebih keras, tapi ciptakan sistem agar mereka bisa bekerja lebih cerdas, menjadi prinsip utama yang ditekankan Edison dalam pengelolaan tenaga sekolah,"katanya.
Selain efektivitas pengelolaan tenaga pendidikan, Edison menekankan pentingnya membangun disiplin dan karakter guru serta pegawai sebagai bagian dari keteladanan bagi peserta didik.
Menurutnya, pembentukan disiplin tidak cukup hanya melalui aturan atau teguran, tetapi harus dimulai dari keteladanan pimpinan sekolah. Kepala sekolah harus menjadi contoh dalam hal ketepatan waktu, ketertiban administrasi, komunikasi yang sopan, serta kepatuhan terhadap aturan sekolah.
“Yang dilihat guru adalah apa yang dilakukan pimpinan, bukan apa yang dikatakan,” tegasnya.
Edison juga mendorong sekolah menerapkan tata tertib guru yang jelas dan adil, sistem penghargaan bagi guru teladan, serta pembinaan bagi guru yang melakukan pelanggaran disiplin.
Dikatakan pemanfaatan absensi online dan teknologi administrasi sekolah juga dinilai dapat membantu menciptakan sistem kerja yang lebih transparan sekaligus menghemat waktu dan biaya.
Dalam pembinaan karakter, Edison mendorong penerapan budaya 5S, yakni Senyum, Sapa, Salam, Sopan, dan Santun. Budaya tersebut harus dimulai dari lingkungan guru dan pegawai sebelum diterapkan kepada siswa.
Ia juga mendorong kegiatan pembinaan rutin, pelatihan guru, kerja sama antar guru melalui kelompok kerja, serta supervisi akademik yang berorientasi pada pembinaan dan bukan sekadar mencari kesalahan.
Menurut Edison, terdapat tiga karakter utama yang harus dimiliki guru teladan, yaitu disiplin, integritas, dan kepedulian. Guru yang disiplin memberikan contoh menghargai waktu, guru yang berintegritas menanamkan kejujuran dan keadilan, sementara guru yang peduli membuat siswa merasa dihargai dan aman.
“Bapak/Ibu bukan hanya mengajar mata pelajaran. Bapak/Ibu sedang mencetak manusia. Satu sikap Bapak/Ibu akan diingat siswa 20 tahun ke depan, lebih lama dari rumus matematika,” ujarnya.
Ia menilai keteladanan tidak dapat dibangun hanya melalui perintah, tetapi harus ditunjukkan melalui tindakan nyata setiap hari.
Karena itu, evaluasi awal semester diharapkan menjadi momentum bagi SMA YPPK Santo Thomas Wamena untuk memperkuat sistem kerja, meningkatkan profesionalisme guru dan pegawai, serta membangun budaya sekolah yang disiplin, berintegritas, peduli, dan berkarakter.(*)

0 Komentar