Merawat Warisan Leluhur, Angginak Sepi Wanimbo Abadikan Kepemimpinan Tradisional Suku Lani dalam Buku

 


WAMENA, SBP NEWS - Di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya dari luar, kekhawatiran terhadap lunturnya identitas generasi muda menjadi perhatian tersendiri bagi Angginak Sepi Wanimbo. 

Pegiat literasi asal Papua Pegunungan ini memilih untuk tidak sekadar menyaksikan perubahan tersebut. 

Ia mengambil langkah nyata dengan mendokumentasikan warisan leluhur melalui sebuah buku berjudul Kepemimpinan Tradisional Suku Lani.

Bagi Angginak, buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan tentang kehidupan masyarakat adat. Lebih dari itu, buku ini merupakan upaya untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat Suku Lani tentang sejarah, bahasa, budaya, serta nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan secara turun-temurun.

Keprihatinannya berangkat dari pengamatan terhadap perkembangan generasi muda yang dinilainya semakin berisiko kehilangan identitas budaya akibat pengaruh nilai-nilai dari luar. Perubahan cara hidup masyarakat menjadi pengingat bahwa warisan leluhur perlu dirawat dan diperkenalkan kembali kepada generasi penerus.

Angginak mengungkapkan rasa syukurnya kepada Tuhan atas penyertaan dan pertolongan yang diterimanya hingga dapat mengambil bagian dalam upaya pelestarian budaya melalui karya tulis.

“Sebagai salah satu anak Suku Lani yang sudah mengenyam pendidikan, saya melihat perkembangan ini dan merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali budaya, bahasa, dan nilai-nilai kepemimpinan yang diwariskan oleh nenek moyang kita,” ungkap Angginak.

Pernyataan tersebut menggambarkan kesadaran bahwa pendidikan tidak hanya menjadi jalan untuk memperoleh pengetahuan modern, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menggali, memahami, dan menjaga kekayaan budaya sendiri.

Melalui buku Kepemimpinan Tradisional Suku Lani, Angginak berupaya menghadirkan kembali pengetahuan tentang kehidupan masyarakat adat dalam bentuk tulisan yang dapat dipelajari oleh berbagai kalangan.

Buku tersebut terdiri atas sepuluh bagian yang membahas berbagai aspek kehidupan masyarakat Suku Lani, terutama sistem kepemimpinan tradisional, peran perempuan, serta sejarah suku tersebut.

Materinya disusun menggunakan bahasa yang mudah dipahami agar dapat menjangkau pembaca dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh adat, calon pemimpin, pelajar, hingga mahasiswa.

Bagi generasi muda, dokumentasi semacam ini dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal kembali nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakat mereka. 

Sementara bagi kalangan terdidik, buku tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan dan perkembangan zaman tidak seharusnya membuat seseorang melupakan akar budayanya.

Upaya Angginak mendokumentasikan kepemimpinan tradisional Suku Lani juga berangkat dari kesadaran bahwa pengetahuan leluhur perlu diwariskan melalui berbagai cara agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Menurutnya, pengetahuan tradisional yang hanya disampaikan secara lisan berisiko tidak terdokumentasi dengan baik apabila tidak ada upaya untuk mencatat, mempelajari, dan mewariskannya secara berkelanjutan.

Karena itu, buku menjadi salah satu media yang dipilihnya untuk mengabadikan pengetahuan tersebut. Ia juga memandang dokumentasi melalui video dan berbagai media lainnya sebagai langkah penting untuk memperluas akses generasi muda terhadap sejarah dan kebudayaan mereka.

Bagi Angginak, pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab para tetua adat. Generasi muda, termasuk mereka yang telah memperoleh pendidikan, memiliki peran penting dalam memastikan pengetahuan leluhur tetap hidup di tengah masyarakat.

Upaya tersebut membutuhkan kesadaran bersama agar nilai-nilai budaya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi tetap dipahami dan menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.

“Nilai-nilai kepemimpinan, budaya, dan bahasa merupakan kekayaan serta identitas kita. Semuanya adalah warisan yang diberikan Tuhan melalui para leluhur. Karena itu, kita sebagai generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk terus merawat dan menjaganya,” katanya.

Pesan itu sekaligus menegaskan bahwa identitas budaya tidak hanya berkaitan dengan bahasa atau tradisi yang diwariskan, tetapi juga menyangkut pengetahuan sejarah, cara pandang, dan nilai-nilai yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Angginak menilai, salah satu tantangan dalam pelestarian budaya adalah memastikan generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal dan memahami warisan leluhur mereka sendiri.

Dalam pandangannya, generasi terdidik dapat mengambil peran melalui penelitian, penulisan buku, dokumentasi sejarah, serta berbagai kegiatan yang memperkenalkan kebudayaan kepada masyarakat luas.

Dengan demikian, pengetahuan yang sebelumnya diwariskan melalui tradisi lisan dapat diperkuat melalui dokumentasi tertulis maupun media lainnya.

Ia berharap, buku Kepemimpinan Tradisional Suku Lani dapat menjadi salah satu referensi bagi masyarakat yang ingin mempelajari sistem kepemimpinan tradisional sekaligus memahami sejarah dan nilai-nilai budaya Suku Lani.

Harapan tersebut tidak berhenti pada hadirnya sebuah buku. Angginak ingin agar karya itu mendorong semakin banyak generasi muda untuk menggali sejarah, mengenal identitasnya, dan mengambil bagian dalam menjaga warisan leluhur.

Baginya, pelestarian budaya merupakan pekerjaan yang tidak seharusnya ditunda. Jika generasi saat ini tidak mengambil langkah untuk mendokumentasikan dan mewariskan pengetahuan tradisional, generasi berikutnya berisiko kehilangan kesempatan untuk mengenal sejarah dan identitas budayanya secara utuh.

Karena itu, ia mengajak generasi muda, khususnya kalangan terdidik, untuk menjadikan pengetahuan dan pendidikan sebagai kekuatan dalam merawat kebudayaan.

“Mulai hari ini, kita sebagai generasi penerus memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupkan kembali dan merawat warisan budaya kita. Dengan begitu, generasi yang akan datang tetap mengenal identitasnya dan mampu berdiri di atas kaki sendiri,” tutupnya.(*)

Posting Komentar

0 Komentar