![]() |
| Ketua Umum GLMANPP, Sepi Wanimbo. |
WAMENA, SBP NEWS - Gerakan Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan (GLMANPP) meminta seluruh pimpinan sekolah di wilayah Lapago membangun dan membudayakan literasi di lingkungan pendidikan.
Penguatan budaya membaca dan menulis dinilai penting untuk meningkatkan wawasan serta kemampuan intelektual generasi muda sekaligus menjadi salah satu upaya mencegah mereka terjerumus dalam berbagai persoalan sosial.
Ketua Umum GLMANPP, Sepi Wanimbo, mengatakan budaya literasi perlu dimulai dari lingkungan sekolah, baik yang berada di wilayah perkotaan maupun di perkampungan.
Menurutnya, setelah mengikuti proses pembelajaran, masih banyak siswa yang belum memanfaatkan waktu luang untuk membaca kembali materi pelajaran, berdiskusi maupun membaca buku di ruang kelas dan perpustakaan.
“Waktu-waktu kosong seharusnya dapat dimanfaatkan untuk diskusi materi yang sudah diterima dari bapak dan ibu guru. Jangan hanya digunakan untuk bermain. Siswa juga perlu dibiasakan membaca buku di ruang kelas maupun perpustakaan,” kata Sepi Wanimbo dalam keterangannya, Sabtu (19/9/2026).
Ia menilai, pendidikan tidak cukup hanya dengan kehadiran siswa di sekolah setiap hari. Kebiasaan belajar dan membaca secara terus-menerus diperlukan agar wawasan dan kemampuan intelektual mereka dapat berkembang.
Karena itu, Sepi mendorong pimpinan sekolah memanfaatkan jam kosong dengan kegiatan yang dapat meningkatkan kemampuan siswa, seperti pelatihan literasi, membaca, menulis, numerasi, diskusi serta kegiatan lain yang dapat membuka wawasan.
Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi siswa dalam mengejar cita-cita dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sepi juga menyoroti masih adanya sekolah yang belum memiliki fasilitas perpustakaan maupun koleksi buku bacaan yang memadai. Padahal, menurutnya, ketersediaan buku dan sarana pendukung merupakan bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
“Setiap pimpinan sekolah perlu membiasakan melakukan pengadaan buku-buku bacaan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan anak didik. Kalau sarana dan prasarana sudah tersedia, tinggal bagaimana sekolah mengarahkan siswa untuk terus belajar,” ujarnya.
Ia berharap budaya literasi yang kuat sejak sekolah dasar hingga pendidikan menengah dapat menjadi fondasi bagi generasi muda ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sepi menilai masih terdapat persoalan kemampuan membaca dan menulis pada sebagian mahasiswa ketika memasuki perguruan tinggi. Karena itu, menurutnya, fondasi kemampuan literasi harus dibangun sejak dini melalui peran keluarga, gereja dan sekolah.
“Bangun fondasi dasar pendidikan oleh ayah dan ibu, gereja dan di sekolah. Biarlah ke depan mimpi generasi muda tersebut bisa berjalan dan diwujudkan dengan baik,” katanya.
Sepi juga mengaitkan lemahnya budaya literasi dengan kerentanan generasi muda terhadap berbagai persoalan sosial.
Ia menyebut penyalahgunaan ganja, lem aibon, minuman keras dan berbagai persoalan sosial lainnya sebagai tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Menurutnya, salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membekali generasi muda dengan pendidikan rohani sekaligus memperkuat budaya literasi.
“Dengan rohani yang sehat dan literasi yang kuat, suatu waktu mereka akan menjadi orang hebat,” katanya.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah sekolah di luar Papua yang dinilainya telah memberikan ruang lebih besar bagi kegiatan literasi. Karena itu, ia berharap sekolah-sekolah di wilayah Papua Pegunungan, khususnya Lapago, dapat semakin aktif menyediakan ruang bagi siswa untuk membaca dan menulis.
Selain sekolah, Sepi mengatakan sejumlah komunitas literasi di Papua Pegunungan juga terus bergerak melakukan kampanye membaca dan menulis dari kampung ke kampung, kota ke kota, gereja ke gereja hingga komunitas ke komunitas.
Ia menilai semangat para pegiat literasi tersebut perlu mendapat dukungan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten.
“Komunitas literasi yang terus bergerak ini sangat membutuhkan sentuhan tangan pemerintah provinsi dan kabupaten sebagai ayah dan ibu bagi rakyat. Karena itu kami mohon dukungan dan perhatian bagi mereka yang mengambil waktu untuk bergerak memajukan gerakan literasi di wilayah Lapago,” ujarnya.
Sepi menegaskan gerakan literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, gereja, komunitas dan pemerintah.
Ia mengajak seluruh pihak membuka ruang-ruang literasi di tempat belajar, tempat kerja, lingkungan pelayanan maupun komunitas agar masyarakat memiliki kesempatan untuk terus meningkatkan pengetahuan.
Lebih jauh, GLMANPP mendorong lahirnya gerakan bersama agar tidak ada masyarakat di wilayah Lapago yang tertinggal dalam kemampuan membaca dan menulis.
“Satu orang Lapago tidak boleh ada yang tidak tahu membaca dan menulis. Semua orang Lapago wajib tahu baca dan tulis,” tegasnya.
Menurut Sepi, kemampuan membaca dan menulis akan membantu masyarakat memahami berbagai informasi yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi.
Ia menilai masyarakat yang memiliki budaya membaca akan lebih mudah memperoleh pengetahuan dan memahami perkembangan di sekitarnya.
“Orang banyak baca buku sedang mengelilingi dunia dari tempat di mana mereka duduk,” katanya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat bersatu membangun gerakan literasi dari kampung ke kampung, sekolah ke sekolah, gereja ke gereja, kantor ke kantor dan komunitas ke komunitas.
“Bersatu kita kuat, bersatu kita bangkit. Mari kampanyekan pentingnya literasi dari hati ke hati, dari sekolah ke sekolah, dari gereja ke gereja, dari kantor ke kantor dan dari komunitas ke komunitas untuk menentukan masa depan yang baik,” pungkasnya.(*)

0 Komentar