![]() |
| Kondisi Sekolah Dasar YPPK st Stevanus Wouma saat ini, Jumat (4/9/2026). |
SUARABALIEMPAPUA – Pasca konflik dan kerusuhan yang terjadi di wilayah Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di SD YPPK Santo Stefanus Wouma turut terdampak. Sekolah sempat diliburkan untuk menjaga keselamatan guru, pegawai, dan peserta didik.
Direktur Eksekutif YPPK Franciscus Asisi (FA) Kabupaten Jayawijaya, Edison Mario Wantik, mengatakan konflik yang terjadi memberikan dampak langsung terhadap keberlangsungan pendidikan di sekolah tersebut.
“Pasca kerusuhan di SD YPPK Santo Stefanus Wouma, sangat mempengaruhi proses berjalannya KBM belajar-mengajar di sekolah ini,” ujar Edison kepada wartawan di Wamena, Jumat (4/9/2026).
Menurut Edison, setelah proses penyelesaian konflik dilakukan melalui pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, serta berbagai pihak, pihak yayasan kembali membuka sekolah untuk menjalankan aktivitas pendidikan sekaligus menerima peserta didik baru.
Namun, proses penerimaan siswa baru mengalami kendala cukup besar. Kondisi tersebut disebabkan sebagian besar peserta didik SD YPPK Santo Stefanus Wouma merupakan masyarakat yang terdampak langsung oleh konflik di wilayah Wouma.
“Target yang sudah direncanakan oleh pihak sekolah, realisasinya di bawah 15 persen, bahkan tidak sampai 10 persen. Ini menjadi dampak langsung khusus untuk sekolah ini,” jelasnya.
Edison menjelaskan, selama situasi konflik, pihak sekolah tetap berupaya memenuhi hak pendidikan peserta didik, termasuk bagi siswa yang belum mengikuti ujian kenaikan kelas maupun ujian kelulusan.
Untuk siswa kelas VI, pihak sekolah bersama guru melakukan penjemputan dari rumah maupun tempat pengungsian agar mereka dapat mengikuti ujian.
“Guru-guru dan kami YPPK menjemput anak-anak itu dari rumah ke rumah. Mereka dari tempat pengungsian untuk melakukan ujian,” katanya.
Bahkan, sejumlah orang tua turut mengantar, menjaga, dan menunggu anak-anak mereka selama mengikuti ujian. Menurut Edison, meskipun kondisi Wouma belum sepenuhnya stabil, siswa kelas VI tetap dapat mengikuti ujian dengan baik.
Sementara itu, bagi siswa kelas I dan II, pelaksanaan evaluasi dilakukan melalui ulangan harian dan ujian kenaikan kelas yang dibantu oleh guru serta wali kelas.
Melihat dampak psikologis yang dialami anak-anak akibat konflik, YPPK FA Kabupaten Jayawijaya berharap adanya perhatian khusus dari pemerintah, terutama Dinas Pendidikan, untuk membantu pelaksanaan kegiatan trauma healing.
Edison menilai trauma healing penting untuk membantu proses pemulihan psikologis peserta didik sehingga mereka dapat kembali mengikuti proses pembelajaran dengan lebih baik.
“Kami mengharapkan kepada pemerintah Kabupaten Jayawijaya, khususnya Dinas Pendidikan, agar bisa membantu kegiatan trauma healing,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan dukungan dan semangat kepada anak-anak sehingga proses belajar mengajar di sekolah dapat berlangsung secara normal.
Selain siswa lama, SD YPPK Santo Stefanus Wouma juga menerima sejumlah peserta didik pindahan dari sekolah swasta lain di wilayah sekitar.
Edison menegaskan, bagi siswa yang pindah ke sekolah lain, pihak sekolah tetap memberikan hak administrasi berupa surat pindah atau rekomendasi sesuai dengan sekolah tujuan sebelum mengeluarkan data siswa dari Dapodik.
Sementara bagi siswa yang belum mengurus surat pindah, data mereka masih tetap tercatat di sekolah. Apabila orang tua kemudian mengajukan surat pindah berdasarkan sekolah tujuan, pihak sekolah akan memproses pengeluaran data siswa dari Dapodik.
Edison menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Bupati Jayawijaya, pemerintah distrik, Dinas Pendidikan, komite orang tua, pihak gereja, serta berbagai pihak lainnya yang telah memberikan perhatian terhadap pemulihan pendidikan di wilayah Wouma.
Ia juga mengapresiasi bantuan dan dukungan yang diberikan berbagai pihak, termasuk Bank BNI, dalam membantu proses pemulihan sekolah.
Menurutnya, meskipun dampak konflik masih dirasakan, proses pendidikan di SD YPPK Santo Stefanus Wouma kini mulai berjalan normal.
“Dengan situasi ini, proses pendidikan di SD YPPK Santo Stefanus Wouma berjalan normal sebagaimana biasa dan kami masih menerima siswa baru,” katanya.
Ia menambahkan, penerimaan siswa baru masih dilakukan meskipun pendataan Dapodik telah ditutup. Peserta didik yang diterima akan diproses untuk pendataan pada semester berikutnya.
Pihak YPPK FA Kabupaten Jayawijaya berharap dukungan pemerintah kabupaten, pemerintah distrik, pemerintah kampung, komite orang tua, pihak gereja, dan seluruh masyarakat dapat terus diberikan untuk memastikan keamanan, kenyamanan guru, serta keberlanjutan pendidikan anak-anak di Wouma.
“Kami berusaha untuk memulihkan situasi, lebih pada memberikan hak anak di sekolah ini sebagaimana biasa berjalan normal,” pungkas Edison.(*)

0 Komentar