WAMENA, SBP NEWS – Ketua Umum Gerakan Literasi Mencerdaskan Anak Negeri Papua Pegunungan (GLMANPP), Angginak Sepi Wanimbo, menyerahkan buku bacaan berjudul Tanah Kami, Masa Depan Kami kepada Solidaritas Pelajar West Papua (SPWP), sekaligus mengajak generasi muda Papua untuk menjaga tanah, hutan, budaya dan identitas Papua.
Penyerahan buku karya Sepi Wanimbo tersebut berlangsung di Sekretariat SPWP, Jalan Hom-Hom, samping Kantor Distrik Hubikiak, Kabupaten Jayawijaya, Kamis (24/9/2026).
Dalam kegiatan itu, Sepi Wanimbo tidak hanya menyerahkan buku, tetapi juga hadir sebagai narasumber dengan materi bertema “Pentingnya Tanah”.
Dalam materinya, Sepi menjelaskan bahwa tanah memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan manusia. Menurut dia, manusia diciptakan melalui tanah, hidup di atas tanah, memenuhi kebutuhan dari tanah, hingga pada akhirnya kembali ke tanah.
Ia menyebut tanah sebagai “ibu” atau “mama” yang memberikan kehidupan bagi manusia.
“Tanah ini sebagai ibu, mama kita, tokoh kita, apotik kita dan ATM kita. Akar manusia tertanam melalui tanah, kehidupan manusia juga ada di tanah dan masa depan generasi penerus gereja dan bangsa semua ada di tanah,” ujar Sepi.
Menurutnya, masyarakat yang memiliki tanah, gunung, sungai dan hutan memiliki sumber kehidupan yang harus dijaga untuk keberlangsungan generasi berikutnya.
Ia pun mengingatkan orang asli Papua agar mempertimbangkan masa depan anak dan cucu sebelum mengambil keputusan terkait tanah.
“Orang asli Papua tanpa uang bisa hidup, tetapi tanpa tanah tidak bisa hidup,” tegasnya.
Sepi mengatakan, tanah tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan kehidupan sosial, budaya dan keberlangsungan masyarakat Papua.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga tanah, hutan dan gunung Papua.
Selain berbicara mengenai tanah, Sepi Wanimbo juga menyoroti pentingnya meningkatkan budaya membaca di kalangan generasi muda Papua.
Ia mengajak seluruh anggota SPWP membiasakan diri membaca buku setiap hari, baik ketika berada di kota maupun di kampung halaman.
Menurutnya, membaca dapat membantu membentuk moral, karakter, integritas dan kejujuran, sekaligus membuka wawasan serta pengetahuan baru.
“Banyak baca buku maka kita akan dapat dibentuk moral, karakter, integritas serta kejujuran, lalu akan banyak tahu pengetahuan baru. Jika tidak membaca buku maka sama saja kita ada dalam kegelapan,” katanya.
Sepi juga mengingatkan bahwa kemampuan membaca dan pengetahuan dapat menjadi bekal bagi generasi muda agar tidak mudah dipengaruhi atau diperdaya oleh kepentingan pihak lain.
Ia berharap buku Tanah Kami, Masa Depan Kami dapat menjadi salah satu bahan bacaan bagi pelajar Papua untuk memahami pentingnya tanah dan masa depan generasi.
Dalam kesempatan tersebut, Sepi juga menyoroti semakin kuatnya pengaruh budaya dari luar terhadap kehidupan masyarakat Papua.
Ia mengajak generasi muda Papua untuk mempelajari bahasa ibu, sejarah dan budaya sebagai bagian dari identitas dan jati diri.
“Sebagai anak asli Papua tentu belajar bahasa ibu, sejarah dan budaya sebagai jati diri untuk masa depan yang baik,” ujarnya.
Menurut Sepi, generasi muda tidak boleh melupakan identitasnya di tengah perkembangan zaman. Bahasa daerah, sejarah dan budaya Papua perlu dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Ia juga mengajak generasi muda untuk mengampanyekan pentingnya menjaga tanah dari lingkungan terkecil.
“Bangkit bersatu, kita kampanyekan dari honai ke honai, dari komunitas ke komunitas, dari gereja ke gereja dan di mana saja kita berada bahwa pentingnya merawat tanah, memelihara tanah, menjaga tanah sebagai ibu atau mama yang selalu memberi kehidupan,” katanya.
Sepi turut menyampaikan pesan melalui kisah Musa yang menggunakan tongkat sebagai sarana untuk menjalankan tugasnya.
Ia memaknai kisah tersebut sebagai refleksi bagi generasi muda Papua bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang dapat digunakan untuk membantu sesama.
Menurutnya, kepintaran, keterampilan, kemampuan, keteladanan, kejujuran dan kesetiaan merupakan “alat” yang dapat digunakan untuk mendidik, menolong dan mencerdaskan masyarakat.
“Ilmu pengetahuan yang kita peroleh selama di bangku studi jangan dijadikan sebagai alat untuk membunuh manusia, menjual tanah, hutan dan segalanya. Tetapi ilmu itu kita jadikan sebagai alat bantu untuk merawat, mengelola dan menikmati hasilnya bersama sanak saudara,” ujarnya.
Sepi juga menyoroti persoalan kemiskinan di Papua Pegunungan. Ia menyatakan bahwa dirinya memandang masyarakat Papua memiliki sumber daya dan potensi, namun persoalan kebijakan dan pengelolaan pembangunan turut memengaruhi kondisi kehidupan masyarakat.
Mewakili Solidaritas Pelajar West Papua, Sabdiel Aruman menyampaikan terima kasih atas motivasi, dorongan dan dukungan yang diberikan Sepi Wanimbo kepada generasi muda Papua.
Menurut Sabdiel, dukungan berupa buku bacaan tersebut akan terus digunakan oleh anggota SPWP sebagai bahan belajar.
Ia mengatakan Sepi Wanimbo selama ini telah memberikan perhatian kepada SPWP, termasuk melalui bantuan buku-buku yang sebelumnya juga telah digunakan untuk belajar.
“Kaka tidak hanya datang menyampaikan materi kepada kami, tetapi kaka juga membantu kami dengan buku bacaan. Ini sangat luar biasa,” ujar Sabdiel.
Ia berharap dukungan dari tokoh, kader dan intelektual yang peduli terhadap generasi muda Papua dapat terus diberikan, baik dalam bentuk doa, tenaga maupun dukungan lainnya.
“Buku-buku bacaan yang kaka bantu dan yang ada lainnya akan terus kami pakai untuk belajar. Kami sangat membutuhkan dukungan berupa doa, daya dan dana,” tutupnya.(*)
0 Komentar