![]() |
| Direktur Eksekutif YKKMP Theo Hesegem saat diwawancarai, di Wamena, Selasa (22/9/2026). |
WAMENA, SBP NEWS - Yayasan Keadilan, Kemanusiaan, Manusia Papua (YKKMP) resmi menutup kegiatan Pelatihan Pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) di Provinsi Papua Pegunungan, Selasa (22/9/2026).
Pelatihan yang berlangsung selama dua hari, 21–22 September 2026, mengusung tema “Mewujudkan Polri yang Profesional, Humanis, dan Berorientasi pada Perlindungan HAM.”
Direktur Eksekutif YKKMP, Theo Hesegem, mengatakan pelatihan tersebut melibatkan anggota kepolisian dari delapan Polres di wilayah Papua Pegunungan. Masing-masing Polres mengirimkan dua anggota untuk mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.
Delapan Polres yang terlibat yakni Polres Jayawijaya, Polres Lanny Jaya, Polres Pegunungan Bintang, Polres Yahukimo, Polres Mamberamo Tengah, Polres Tolikara, serta Polres lainnya yang berada di wilayah Papua Pegunungan.
Menurut Theo, Polres Jayawijaya mendapat kuota lebih banyak karena merupakan Polres induk yang menjadi salah satu pusat kegiatan kepolisian di wilayah tersebut.
Ia menjelaskan, selama pelatihan para peserta mendapatkan materi mengenai HAM dari sejumlah narasumber yang memiliki kompetensi di bidangnya, termasuk perwakilan Komnas HAM, akademisi, lembaga masyarakat sipil, serta unsur kepolisian.
“Peserta berperan aktif mengikuti seluruh materi yang disampaikan oleh para narasumber. Kami berharap pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan dapat diterapkan ketika mereka menjalankan tugas di lapangan,” kata Theo.
Ia menegaskan, pemahaman HAM penting bagi anggota Polri karena dalam menjalankan tugas, aparat harus memperhatikan dan menghormati hak-hak dasar setiap manusia.
Theo berharap pelatihan tersebut dapat memperkuat hubungan dan sinergi antara masyarakat dengan kepolisian di setiap wilayah.
Menurutnya, penegakan HAM bukan hanya menjadi tanggung jawab lembaga atau kelompok tertentu, melainkan merupakan tanggung jawab bersama.
“Penegakan hak asasi manusia itu tanggung jawab kita bersama, bukan hanya tanggung jawab seseorang atau kelompok tertentu. Kita berbicara tentang manusia dan bagaimana hak-hak yang melekat pada setiap manusia itu dihormati,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan bagi anggota Polri. Ke depan, YKKMP berencana mengembangkan pendidikan HAM bagi berbagai kelompok masyarakat, termasuk pelajar, pemuda gereja, dan para hamba Tuhan.
“Kami berharap ke depan pendidikan HAM juga dapat diberikan kepada anak-anak sekolah, pemuda gereja dan hamba-hamba Tuhan. Dengan begitu, setiap orang mengetahui hak yang melekat pada dirinya,” jelasnya.
Theo mengatakan YKKMP juga akan menjajaki kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, pemerintah kabupaten, maupun Polda Papua untuk memperluas pelaksanaan pendidikan HAM bagi aparat kepolisian di seluruh wilayah Papua Pegunungan.
Ia berharap pendidikan HAM dapat dilakukan secara berkelanjutan di delapan kabupaten sehingga pemahaman mengenai penghormatan dan perlindungan HAM semakin kuat di tengah masyarakat maupun aparat penegak hukum.
Seluruh peserta yang mengikuti pelatihan selama dua hari juga diberikan sertifikat sebagai bukti telah mengikuti kegiatan pendidikan HAM tersebut.
Theo menambahkan, pelatihan ini menjadi langkah awal YKKMP dalam membangun jaringan kerja sama yang lebih luas untuk mendorong penghormatan terhadap HAM dan penegakan hukum di Papua Pegunungan.
“Penegakan hukum dan hak asasi manusia merupakan dua hal yang melekat dan tidak dapat dipisahkan. Karena itu, kami berharap peserta dapat menerapkan materi yang telah diterima dalam pelaksanaan tugas di lapangan,” pungkasnya.(*)

0 Komentar