Dari Anak Jalanan Yang Mencuci Mobil Dengan Air Got, Yomi Kogoya Kini Menjadi Anggota DPRK Jayawijaya

Anggota DPRK Jayawijaya Yomi Kogoya, S. Ip

WAMENA, SBP NEWS - Di bawah trotoar, di antara aliran air got yang kotor dan bau yang menyengat, seorang anak kecil berjuang mempertahankan hidupnya. Dengan tangan mungilnya, ia mencuci mobil dan sepeda motor menggunakan air got yang mengalir di bawah trotoar. Bukan karena ia tidak ingin hidup seperti anak-anak lainnya, melainkan karena itulah cara yang ia tahu untuk bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan.

Saat anak-anak seusianya pulang ke rumah, menikmati kasih sayang orang tua, dan duduk bersama keluarga di meja makan, ia justru menghabiskan waktunya di jalanan. Trotoar menjadi tempat bernaung, jalan raya menjadi ruang mencari nafkah, sementara air got yang mengalir di bawahnya menjadi bagian dari kisah masa kecil yang tak pernah ia lupakan.

Anak itu adalah Yomi Kogoya, S.IP., yang kini menjabat sebagai anggota DPRK Jayawijaya sekaligus Ketua Komunitas Anak Jalanan (KANJAL).

Namun, jauh sebelum ia duduk di kursi legislatif dan dipercaya mewakili masyarakat, Yomi hanyalah seorang anak jalanan yang berusaha bertahan di tengah kehidupan yang tidak mudah. Ia tumbuh dengan berbagai keterbatasan, menghadapi penolakan, dan menjalani hari-hari yang membuatnya merasa seolah tidak lagi memiliki tempat untuk pulang.

Air got di bawah trotoar menjadi saksi masa kecilnya.

Bagi sebagian orang, air got hanyalah aliran kotor yang harus dihindari. Namun, bagi Yomi dan teman-temannya ketika itu, air tersebut memiliki makna yang jauh lebih dalam. Mereka menganggap aliran air yang digunakan untuk mencuci kendaraan itu seperti seorang ibu yang terus memberikan kehidupan kepada anak-anaknya.

“Waktu itu, kami mencuci mobil dan motor menggunakan air got yang mengalir di bawah trotoar. Bagi kami, air itu seperti mama yang selalu menyusui kami. Dari situ kami mencari uang untuk bertahan hidup,” kenang Yomi, sambil mata berkaca-kaca.

Kalimat itu bukan sekadar cerita tentang cara mencari uang. Di baliknya, tersimpan kepedihan tentang masa kecil yang kehilangan kehangatan keluarga, tentang anak-anak yang terpaksa mencari tempat berteduh dan menggantungkan hidup pada jalanan.

Di tengah kehidupan yang keras, Yomi dan teman-temannya juga terjerumus dalam kebiasaan yang membahayakan diri mereka. Mereka kerap menghirup lem Aibon dan mengonsumsi minuman keras. Pergaulan di jalanan membuat mereka semakin jauh dari kehidupan anak-anak yang seharusnya dipenuhi pendidikan, perhatian, dan perlindungan.

Kebiasaan tersebut juga membuat mereka kerap menjadi incaran aparat TNI dan Polri. Kehidupan mereka tidak hanya diwarnai perjuangan mencari uang, tetapi juga ketakutan, teguran, dan berbagai persoalan yang harus dihadapi anak-anak seusia mereka.

Meski demikian, di antara kerasnya kehidupan jalanan itu, Yomi masih menyimpan satu hal yang tidak pernah sepenuhnya ia tinggalkan: sekolah.

Di tengah kehidupan yang tidak menentu, ia tetap berusaha pergi ke sekolah. Barangkali, tanpa disadarinya saat itu, pendidikan menjadi salah satu jembatan yang kelak membawanya keluar dari kehidupan yang membelenggunya.

Sejak kecil, Yomi juga dikenal sebagai sosok yang kerap dipercaya memimpin. Ia pernah menjadi ketua kelas, hingga kemudian dipercaya menjadi ketua komunitas anak jalanan. Di antara teman-temannya, ia bukan sekadar bagian dari kelompok anak jalanan, tetapi juga seseorang yang mendapat kepercayaan untuk memimpin mereka.

Namun, menjadi pemimpin di tengah kehidupan jalanan bukanlah perkara mudah. Ada kebiasaan buruk yang harus dihadapi, ada luka yang harus ditanggung, dan ada kenyataan pahit ketika orang-orang terdekat justru menjauh.

Ketika keluarga menjauh, jalanan menjadi tempatnya bertahan.

Yomi mengakui bahwa dirinya pernah menjalani kehidupan yang jauh dari harapan banyak orang. Ia menjadi pemabuk dan menghirup lem Aibon. Kebiasaan itu membuat keluarganya menjauh hingga ia merasa terlantar di jalanan.

“Saya akui, waktu itu saya memang pemabuk dan tukang isap Aibon, sehingga keluarga saya semuanya menjauh dan membiarkan saya terlantar di jalanan,” ungkapnya, sambil meneteskan air mata.

Pengakuan itu menjadi bagian paling getir dari perjalanan hidup Yomi. Sebab, bagi seorang anak, keluarga seharusnya menjadi tempat pertama untuk pulang ketika dunia terasa terlalu keras. Namun, ia justru harus melewati masa-masa ketika jalanan menjadi tempat bertahan hidup, sementara kasih sayang keluarga terasa begitu jauh.

Di usianya yang masih muda, ia harus menghadapi kenyataan yang tidak mudah dipahami oleh seorang anak. Ia mencari uang sendiri, bergaul dengan teman-teman yang mengalami nasib serupa, dan menjalani kehidupan yang penuh risiko.

Tidak semua orang mengetahui bagaimana rasanya tumbuh dalam keadaan seperti itu. Tidak semua orang memahami bahwa di balik seorang anak jalanan yang terlihat nakal, bisa tersimpan kesepian, kekecewaan, dan kebutuhan sederhana untuk diterima.

Bagi Yomi, masa lalu itu bukan sesuatu yang bisa dihapus begitu saja. Pengalaman tersebut telah menjadi bagian dari dirinya, membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan dan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya di jalanan.

Kehendak Tuhan mengubah jalan hidupnya.

Yomi tidak pernah menyangka bahwa perjalanan hidup yang dimulai dari mencuci kendaraan dengan air got akan membawanya sampai ke tempat yang jauh berbeda.

Dari seorang anak yang mencari uang di pinggir jalan, ia kemudian tumbuh menjadi seseorang yang dipercaya masyarakat untuk menduduki jabatan sebagai anggota DPRK Jayawijaya.

Perubahan itu menjadi titik balik yang luar biasa dalam hidupnya. Anak yang dahulu menjalani hari-hari tanpa kepastian, kini memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat. Anak yang pernah merasa ditinggalkan, kini justru diterima dan dianggap sebagai keluarga oleh banyak orang.

“Namun, kehendak Tuhan selalu berbeda dengan manusia. Hari ini saya bisa menjadi seorang anggota DPRK Jayawijaya, dan banyak orang yang menganggap saya sebagai keluarga,” tuturnya.

Bagi Yomi, perjalanan tersebut bukan semata-mata tentang keberhasilan meraih jabatan. Lebih dari itu, hidupnya menjadi bukti bahwa masa lalu yang kelam tidak harus menentukan seluruh masa depan seseorang.

Ia tidak menutupi kesalahan yang pernah dilakukan. Ia justru menceritakannya secara terbuka, seolah ingin menunjukkan bahwa seseorang yang pernah tersesat tetap memiliki kesempatan untuk berubah dan menjalani kehidupan yang lebih baik.

Yang lebih menyentuh, Yomi mengaku tidak menyimpan dendam atas berbagai pengalaman pahit yang pernah dialaminya. Ia tidak ingin masa lalu menjadi alasan untuk membenci orang lain.

“Saya juga tidak pernah dendam sampai saat ini,” katanya.

Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang besar. Sebab, tidak mudah bagi seseorang yang pernah merasa ditinggalkan untuk tetap membuka hati, apalagi ketika pengalaman masa kecilnya dipenuhi penolakan dan kesulitan.

Namun, Yomi memilih untuk melanjutkan hidup tanpa menjadikan luka masa lalu sebagai alasan untuk membalas perlakuan orang lain.

Dari anak jalanan, kini kembali merangkul anak jalanan.

Meski telah menjadi anggota DPRK Jayawijaya, Yomi tidak melupakan kehidupan yang pernah dijalaninya. Ia tetap menjabat sebagai Ketua Komunitas Anak Jalanan (KANJAL), sebuah komunitas yang memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan hidupnya sendiri.

Kehadirannya dalam komunitas tersebut menjadi pengingat bahwa di balik perubahan status dan tanggung jawab yang kini diembannya, ada masa lalu yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan.

Ia pernah berada di posisi anak-anak yang hidup di jalanan, mencari uang untuk makan, menghadapi kerasnya lingkungan, dan menjalani hari-hari tanpa kepastian. 

Ia memahami bahwa di balik kehidupan jalanan, ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, kesempatan, serta seseorang yang bersedia mendengarkan cerita mereka tanpa terlebih dahulu menghakimi.

Kisah hidupnya menghadirkan pesan bahwa anak jalanan tidak seharusnya hanya dilihat dari penampilan, kebiasaan, atau kesalahan yang pernah mereka lakukan. Mereka juga memiliki harapan, potensi, dan kesempatan untuk mengubah hidup, apabila mendapatkan ruang dan dukungan yang tepat.

Kini, ketika mengingat masa kecilnya, Yomi tidak hanya melihat air got di bawah trotoar sebagai tempat mencari nafkah. Ia melihatnya sebagai saksi perjalanan hidup yang mengajarkannya tentang kesulitan, ketahanan, dan arti sebuah kesempatan.

Dulu, air itu menjadi bagian dari perjuangannya bertahan hidup. Hari ini, kenangan tersebut menjadi pengingat tentang betapa jauhnya ia telah melangkah.

Dari seorang anak yang mencuci mobil dan motor menggunakan air got, dari seorang anak yang pernah terjerumus dalam minuman keras dan lem Aibon, dari seseorang yang pernah merasa kehilangan tempat untuk pulang, Yomi Kogoya kini berdiri sebagai anggota DPRK Jayawijaya.

Ia tidak lahir dari kehidupan yang mudah. Ia tumbuh melewati masa-masa yang menyakitkan, tetapi tidak membiarkan seluruh pengalaman itu menghentikan langkahnya.

Kisah Yomi bukan cerita tentang seseorang yang tidak pernah melakukan kesalahan. Ini adalah cerita tentang seorang manusia yang pernah jatuh, menghadapi masa lalu yang kelam, lalu memperoleh kesempatan untuk menjalani kehidupan yang berbeda.

Sebab, terkadang, orang yang paling memahami arti sebuah rumah adalah mereka yang pernah kehilangan tempat untuk pulang. Dan orang yang paling memahami luka anak jalanan adalah mereka yang pernah hidup di jalanan itu sendiri.

Hari ini, Yomi Kogoya bukan lagi anak kecil yang menggantungkan hidup pada air got di bawah trotoar. Namun, anak kecil itu tetap hidup dalam ingatannya, sebagai pengingat bahwa di balik kehidupan yang paling keras sekalipun, harapan masih bisa tumbuh.(*)

Posting Komentar

0 Komentar