Peringatan 800 Tahun Wafat Santo Fransiskus Asisi YPPK FA Jayawijaya Gelar Rekoleksi

Spanduk Rekoleksi Yubelium 800 Tahun Wafat Santo Fransiskus Asisi.
WAMENA, SBP NEWS - Dalam Rangka Yubelium 800 Tahun Wafat Santo Fransiskus Asisi, Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi (FA) Jayawijaya menggelar Rekoleksi di aula soska gereja Katholik Kristus Jaya Wamena, Rabu (7/10/2026).

Tema yang diangkat dalam kegiatan tersebut ialah "Fransiskus manusia damai, saudara bagi semua". Sub Tema "Dengan semangat St Fransiskus dari Asisi, kita menjadikan YPPK sebagai komunitas belajar yang damai, penuh kasih dan bersaudara dengan semua ciptaan,".

Dalam kesempatan itu Direktur Eksekutif YPPK Fransiskus Asisi (FA), Edison Mario Wantik mengatakan bahwa persaudaraan yang tumbuh di tengah keberagaman suku, budaya, dan latar belakang masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam menciptakan perdamaian yang berkelanjutan di Papua Pegunungan. 

Dikatakan nilai tersebut perlu ditanamkan sejak usia dini melalui lingkungan sekolah agar generasi muda mampu hidup berdampingan, saling menghargai, dan menyelesaikan perbedaan sebagai saudara.

Ia menyebut dalam kegiatan tersebut, semangat persaudaraan, perdamaian, dan cinta lingkungan menjadi tema utama yang didorong untuk dihayati oleh para guru dan pegawai YPPK.

Lebih lanjut dia, menegaskan bahwa persaudaraan sejati bukanlah upaya menyeragamkan setiap orang, melainkan kemampuan menerima dan menghargai perbedaan yang ada di tengah masyarakat.

“Persaudaraan yang asli adalah saya berbeda dengan kamu, tetapi saya tidak takut dengan perbedaan itu. Justru saya membutuhkan perbedaan itu,” kata Edison.

Ia menggambarkan kondisi di Wamena yang memiliki keberagaman suku dan budaya. Dalam satu ruang kelas taman kanak-kanak saja, kata dia, terdapat anak-anak dari berbagai latar belakang seperti Dani, Lani, Yali, Nduga, Jawa hingga Bugis yang hidup dan belajar bersama.

Menurut Edison, kedamaian lahir ketika masyarakat mampu membangun rasa persaudaraan yang kuat. Ia menjelaskan, banyak konflik berawal dari rasa curiga terhadap kelompok lain. Namun, persaudaraan mampu menghapus kecurigaan tersebut melalui kebersamaan dan dialog.

“Konflik sering dimulai dari curiga kecil. Persaudaraan mengajak kita duduk bersama, makan bersama, dan saling mengenal. Dari situ rasa curiga perlahan hilang,” ujarnya.

Selain itu, persaudaraan juga mengajarkan masyarakat untuk berbagi, bukan saling berebut. Jika rasa sebagai saudara sudah tumbuh, maka kepentingan bersama akan lebih diutamakan dibanding kepentingan pribadi atau kelompok.

Edison menilai damai yang sesungguhnya tidak lahir dari kekuatan senjata ataupun aturan semata, melainkan dari hati yang merasa saling terhubung sebagai saudara.

“Kita bisa menjaga daerah dengan berbagai aturan dan aparat, tetapi jika masih ada perasaan ‘kita dan mereka’, maka damai itu hanya sementara. Sebaliknya, jika sejak kecil anak-anak diajarkan bahwa mereka adalah satu keluarga, maka kedamaian akan tumbuh dari dalam diri mereka sendiri,” katanya.

Ia juga mengajak seluruh sekolah di bawah naungan YPPK untuk menerapkan nilai persaudaraan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain tidak memisahkan siswa berdasarkan suku, melibatkan semua kelompok dalam kegiatan sekolah, serta menanamkan nilai kebersamaan sejak usia dini.

Sementara itu, Pastor Aventinus Jenaru OFM mengatakan kegiatan rekoleksi tersebut bertujuan mendorong para guru dan pegawai YPPK agar semakin menghayati semangat perdamaian, persaudaraan, dan cinta lingkungan sebagaimana diteladankan Santo Fransiskus Asisi.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut harus diwujudkan tidak hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.

“Harapannya para guru semakin menjadi agen perdamaian, persaudaraan, dan cinta lingkungan, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat di Kabupaten Jayawijaya dan Provinsi Papua Pegunungan,” ujarnya.

Melalui rekoleksi tersebut, YPPK berharap seluruh tenaga pendidik mampu menjadi teladan dalam membangun kehidupan yang harmonis, menghargai keberagaman, serta menjaga lingkungan demi terciptanya masyarakat Papua Pegunungan yang damai dan sejahtera.(*)

Posting Komentar

0 Komentar