YPPK FA Jayawijaya: Guru Harus Jadi Pembawa Damai di Tengah Situasi Papua Pegunungan

Direktur YPPK FA Jayawijaya bersama pimpinan gereja dan pemerintah saat melakukan sesi Pemotongan kue, di aula soska gereja Katholik Kristus Jaya Wamena, Rabu (8/10/2026).

WAMENA, SBP NEWS - Momentum Yubelium 800 Tahun wafat Santo Fransiskus dari Asisi menjadi kesempatan bagi Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK) Fransiskus Asisi (FA) Jayawijaya untuk mengajak para guru, khususnya guru Taman Kanak-Kanak (TK), meneladani nilai-nilai perdamaian, persaudaraan, dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Direktur Eksekutif YPPK FA Kabupaten Jayawijaya Papua Pegunungan, Edyson Mario Wantik, S.Ag, mengatakan sosok Santo Fransiskus dari Asisi tetap relevan hingga saat ini, terutama di tengah situasi keamanan di Papua Pegunungan yang kerap mengalami pasang surut.

Menurutnya, Fransiskus Asisi dikenal sebagai manusia damai dan saudara bagi semua orang. Nilai-nilai yang diwariskannya dapat menjadi pedoman bagi para pendidik dalam membangun karakter anak-anak sejak usia dini.

“Menjadi manusia damai bukan berarti menunggu situasi di luar benar-benar aman. Justru kita memilih tetap damai meskipun kondisi di sekitar belum sepenuhnya aman,” ujarnya saat perayaan berlangsung di Soska Gereja Katolik Kristus Jaya Wamena, Kamis (8/10/2026).

Ia menjelaskan, teladan Santo Fransiskus terlihat dari keberaniannya menyebarkan pesan damai di tengah situasi perang dan konflik. Semangat itu, kata dia, dapat diwujudkan oleh para guru melalui sikap sederhana seperti tetap mengajar dengan penuh kasih, menyambut anak-anak dengan senyum, dan menghadirkan rasa aman di lingkungan sekolah.

Selain nilai perdamaian, Edyson juga menekankan pentingnya membangun persaudaraan tanpa membedakan latar belakang. Menurutnya, Santo Fransiskus mengajarkan bahwa semua orang adalah saudara dan tidak ada ruang bagi sikap saling membenci.

“Di ruang kelas, semua anak harus diperlakukan sama. Kita tidak boleh mewariskan perpecahan dan kebencian kepada generasi muda. Justru sekolah harus menjadi tempat menanamkan nilai persaudaraan dan saling menghormati,” katanya.

Ia menambahkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam menjaga anak-anak agar tumbuh dengan semangat persatuan di tengah berbagai tantangan sosial yang terjadi di masyarakat.

Dalam refleksinya, Edyson juga mengangkat nilai kesederhanaan yang diajarkan Santo Fransiskus. Menurutnya, seorang pendidik tidak diukur dari fasilitas yang dimiliki, melainkan dari ketulusan hati dalam mendidik.

“Guru yang mengajar dengan penuh cinta dan pengabdian, meskipun dalam keterbatasan, tetap memiliki kekayaan hati yang besar. Itulah yang menjadi kekuatan utama seorang pendidik,” ujarnya.

Melalui peringatan Yubelium 800 Tahun Santo Fransiskus dari Asisi, YPPK FA Jayawijaya berharap para guru dapat terus menjadi pembawa damai, penebar persaudaraan, dan teladan bagi anak-anak dalam membangun masa depan yang lebih harmonis di Papua Pegunungan.(*)

Posting Komentar

0 Komentar