![]() |
| Kondisi Kebun Yang Alami Gagal Panen Akibat Kekeringan Ekstrem di distrik Taelarek kabupaten Jayawijaya provinsi Papua Pegunungan. |
SUARABALIEMPAPUA – Hamparan kebun yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat di wilayah pegunungan Papua kini menghadapi ancaman serius. Kekeringan ekstrem yang melanda sejumlah daerah di Papua Pegunungan mulai meninggalkan jejak kerusakan pada tanaman pangan masyarakat, terutama di wilayah yang berada di sekitar kawasan Gunung Trikora dan Habema.
Di Distrik Taelarek, Kabupaten Jayawijaya, perubahan cuaca yang tidak biasa menjadi perhatian warga. Kawasan yang dikenal berada di bawah bentangan Gunung Habema dan Trikora itu selama ini identik dengan suhu dingin dan keberadaan salju di puncak gunung. Namun, musim kemarau panjang yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir telah membawa dampak yang semakin terasa hingga ke lahan pertanian masyarakat.
Pada malam hari, embun beku atau frost turun menyelimuti kebun-kebun warga. Fenomena yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai “es” itu menyebabkan tanaman sayur-mayur, umbi-umbian, dan berbagai komoditas pertanian mengalami layu, mengering, bahkan membusuk sebelum sempat dipanen.
Ketua DPD Partai Hanura Provinsi Papua Pegunungan, yang juga sebagai Tokoh Intelektual dari Wilayah tersebut Senius Hilapok, mengatakan kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Taelarek, tetapi mulai merambah sejumlah distrik lain yang berada di kawasan pegunungan tinggi.
Menurutnya, dampak kekeringan dan suhu ekstrem kini dirasakan masyarakat di Distrik Taelarek, Nemangkawi Trikora, Walelagama, Pelebaga, Ibele, hingga Wamena.
“Tanaman masyarakat mulai rusak. Kebun-kebun mengalami kekeringan, sementara embun beku pada malam hari membuat tanaman layu dan kering. Ini menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan masyarakat,” ujarnya, melalui via WhatsApp kepada media ini, Selasa (25/8/2026).
Senius menjelaskan, fenomena cuaca ekstrem yang sebelumnya terjadi di wilayah Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya, serta beberapa daerah di Kabupaten Nduga dan Puncak, kini mulai bergerak ke wilayah Jayawijaya. Kondisi tersebut membuat masyarakat khawatir akan terjadinya gagal panen yang dapat memicu krisis pangan di daerah pegunungan.
Bagi masyarakat Papua Pegunungan, kebun bukan sekadar lahan pertanian, melainkan sumber utama kehidupan. Sebagian besar warga menggantungkan kebutuhan sehari-hari dari hasil kebun seperti ubi jalar, sayuran, dan tanaman hortikultura lainnya.
"Ketika tanaman rusak akibat kekeringan dan embun beku, maka dampaknya langsung dirasakan oleh keluarga-keluarga Kami yang ada di kampung-kampung,"jelasnya.
Melihat kondisi tersebut, Senius Hilapok meminta pemerintah pusat maupun pemerintah daerah segera mengambil langkah cepat dan terukur. Ia berharap perhatian khusus diberikan kepada masyarakat yang berada di daerah terdampak sebelum situasi semakin memburuk.
Permintaan itu ditujukan kepada Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Kementerian Sosial RI, Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, serta Pemerintah Kabupaten Jayawijaya agar segera melakukan pemantauan lapangan dan menyalurkan bantuan bagi masyarakat yang terdampak.
“Kami berharap pemerintah segera merespons kondisi ini. Jangan sampai masyarakat mengalami kesulitan pangan yang lebih besar akibat kerusakan kebun yang terus meluas,” katanya.
Di tengah bentangan pegunungan yang megah dan dingin, masyarakat kini menanti perhatian serta langkah nyata pemerintah. Sebab bagi mereka, menyelamatkan kebun berarti menyelamatkan kehidupan.(*)

0 Komentar